12th Anniversary of Insect Museum ‘Soemartono Sosromarsono’ IPB

“Museum serangga harus menjadi jendela dunia bagi manusia untuk mengenal serangga”, demikian pesan yang disampaikan oleh Dr Suryo Wiyono, MSc.Agr selaku Ketua Departemen Proteksi Tanaman IPB pada pembukaan agenda 12th Anniversary of Insect Museum Soemartono Sosromarsono, Sabtu, 20 Mei 2017 yang lalu. Bersamaan dalam sambutannya, beliau juga menuturkan bahwa semangat perjuangan Profesor Soemartono Sosromarsono sebagai entomologis pertama Indonesia yang berasal dari pribumi, harus dirasakan oleh mahasiswa dan mendorong mereka untuk mempelajari dunia serangga ini lebih mendalam. Continue reading “12th Anniversary of Insect Museum ‘Soemartono Sosromarsono’ IPB”

Nanti Juga Diam

Tulisan ini saya dedikasikan untuk orang-orang yang suka berkomentar, “Biarin aja, nanti juga diam” atau kalimat yang semakna dengan itu. Ehm, jadi ceritanya berawal dari baca-baca komentar di sosial media, yang selalu muncul pihak pro dan kontra (kadang ada yang netral, katanya, katanya ini loh ya) atas berbagai hal, ya kan. Dan dengan menjamurnya sosial media hari ini, orang dapat dengan mudah dan jelas menunjukkan dukungan atau penolakannya atas sesuatu. Bukan masalah tentunya, karena setiap orang punya hak untuk itu. Yang jadi gak enak adalah, waktu terjadi perbedaan pendapat suka ada suara nyaring [yang seperti nyari aman] dengan bilang, “Biarin aja, nanti juga diam”.

Well, sejujurnya, kalimat pendek tadi [menurut saya] justru seakan-akan wujud kekesalan atau lebih tepatnya ketidakpedulian atas apa yang diperjuangkan oleh orang lain. Anggapan mereka, ya biarin aja mereka protes sana sini, nanti kalau udah beres juga akan sunyi senyap lagi.

Misal, dalam kasus #BelaAlquran yang lalu, gak sedikit loh yang bilang gini, “Udah, biarin aja. Paling juga ntar kalo udah capek, bakal berenti mereka aksi”. Dan, contoh teranyar tentu saja naiknya harga listrik sama cabe, “Udah biarin aja pada sewot harga cabe tinggi, paling kalo butuh juga bakal dibeli, kok”. Nyelekit banget.

***

Well, entahlah, lagi lagi ini tentu cuma pandangan saya (siapalah saya, big eye onion head ). Nanti juga diam, sebenarnya dapat dimaknai dengan ‘peng-anggap-an remeh’ atas apa yang diperjuangkan oleh orang lain. Itu sama saja dengan ‘Nih, gue dengarin lu ngomong, gue dengerin kok, tapi gak bermaksud nanggepin atau ngejawab, nyakitin gak? So, what is the purpose of discussion? Communication?  

calm down crazy rabbit

 

Atau, kalau dalam kasus #BelaAlquran, ucapan ucapan itu bermakna ketidaktahuan dan peremehan tentang apa yang mendorong umat Islam berangkat aksi sekaligus mengorbankan banyak hal dalam hidup mereka. Seakan umat Islam hanya ‘sedang’ kurang kerjaan tapi kelebihan semangat, seakan nanti kalau sudah lelah dan kerjaan lain menumpuk, mereka akan lupa lagi dan senyap lagi dalam membela al quran dan Islam. Ini menyakitkan. If you are moslem, and you think like this, hhh…

            kill myself crazy rabbit

 

Dan, oke tentang cabe. Ada sebagian yang menyatakan tak setuju dengan kenaikan harga cabe karena mencekik masyarakat. Mereka bilang, harusnya pemerintah punya solusi dong gimana supaya harga terjangkau, tapi petani tetap untung. Itulah fungsi pemerintah. Solusi tanam sendiri, ya tentu skala rumah tangga, ada yang bisa ada yang enggak. Kalo pun bisa, sebanyak apa yang bisa ditanam. Alasan lain, mangga liat liat sendiri yah.

Dan yang setuju harga cabe naik, juga ada. Dengan anggapan, harga ini demi kebaikan petani. Yah saya kuliah di pertanian, saya juga senang kalau petani merasakan keuntungan dari proses bertani mereka. Saya selalu berharap pertanian negeri ini maju, petaninya hidup makmur, dan ini tentu keinginan banyak orang. Tapi tentu bukan untuk sekali dua kali, terus selebihnya rugi kan. Dan seterusnya lah ya alasan yang mendukung ini.

Tapi, intinya, selama masih fit [otaknya], semua orang bisa berdiskusi. Semua orang bisa saling membuka pemahaman. Semua orang bisa saling mencerdaskan. Begitukan semestinya kita?

embarrassed4 onion head

Well, pesan inti ada pada secarik kalimat di atas. Tapi sebagai penutup, sejujurnya, saya merasa sedih (ditambah malu banget) kalau yang bersikap begini (baca: yang komen komen tadi) adalah mahasiswa. Meski nggak berada pada kelompok apapun, cobalah -ketidakterlibatan- kita, jangan ditunjukkan dengan peremehan atas apa yang diperjuangkan oleh orang lain. Salah salah, sikap itu malah menunjukkan identitas sosok sosok yang pragmatis. Alias, kita justru sudah berkubu pada pragmatisme. Kita yang justru sudah memihak, tanpa kita sadari.

Dan parahnya lagi, kalau sikap begini juga ditunjukkan sama pemerintah. Ini parahnya kebangetan. Lha wong tugasnya ngurusin rakyat, kok rakyatnya ngadu, malah gak dianggap penting, gak didengerin. Eh, didengerin deng, cuma ada lanjutannya, ‘Sudah, biarkan mereka bicara, tapi saya tidak [akan] bertindak apa-apa’. Ups. Emang ada yang begini? Ah sudahlah.

evil smile onion head

 

Salam,

arini  

We Need Khilafah Not Democracy!

Saat hari ini kamu keluar rumah dengan seperangkat alat sholat, eh maksudnya seperangkat penutup aurat (kerudung+jilbab+mihnah+kaos kaki) mungkin udah biasa aja. Padahal, berdasarkan cerita dari para pendahulu, dulu itu, orang pakai kerudung (kerudung doang ini loh ya), sudah dianggap ‘eksklusif’ dan ‘aneh’.
Continue reading “We Need Khilafah Not Democracy!”